Bentuk dan Struktur Kromosom



Struktur Kromosom

Menurut Sutrian (1992), para ahli biologi ternyata mempunyai anggapan-angapan yang berbeda terhadap struktur kromosom. Perbedaan anggapan ini dikarenakan beberapa hal, antara lain sebagai berikut:
(a)    Dalam melakukan penyelidikannya, mereka telah menggunakan cara-cara fiksasi dan pewarnaan yang berbeda-beda.
(b)   Kemampuan mereka untuk melakukan penelitian pada susunan kromosom masih terbatas, meskipun dukungan mikroskop sangat menunjang. Akan tetapi obyeknya yaitu susunan kromosom rumit sekali di mana garis-garis yang sangat halus hanya bisa dilihat sebagai satu garis, sehingga penelitian yang kurang sempurna melahirkan anggapan yang berbeda-beda.
(c)    Tumbuh-tumbuhan yang diteliti terdiri dari berbagai spesies yang tentunya pula akan melahirkan berbagai anggapan.
(d)   Tahapan dan susunan kromosom yang diteliti keadaannya memang berbeda-beda.

ADN dapat dibuat in vitro dengan mencampur ADN dari organisme hidu (sebagai cetakan atau primer) dengan  ADN polymerase nukleotida A, T, S, G baru mempuyai urutan basa yang sama dengan ADN primer. Penelitian mengenai replikasi ADN in vitro telah dilakukan dengan menggunakan kromosom prokaryote yang hanya terdiri dari ADN saja (disebut ADN telanjang). Struktur kromosom dari eukariot belum dimengerti betul. Pada umumnya kromosom terdiri dari 30-60% ADN  sedang sisanya protein atau kadang-kadang ARN. Kromosom-kromosom itu sangat berpilin sehingga sukar untuk mengukurnya. Kromosom itu sendiri dalam sel dapat dilihat dengan mikroskop. Dengan tekhnik pengecatan khusus dapat dilihat bahwa kromosom mengandung ADN (Feulgen) (Crowder,1997).

Ukuran Bentuk Dan Jumlah Kromosom

Untuk pengetahui tentang ukuran, bentuk dan jumlah kromosom, seorang ahli harus benar-benar menekuni tentang pembelahan selm terutama mengenai pembelahan mitosis dan metafase. Dalam tahapan ini kromosom-kromosom lebih berkondensasi, lebih pendek, lebih tebal dibandingkan dengan keadaan pada tahapan-tahapan lainnya. Ukuran dan besar kromosom tersebut ternyata bervariasi, yaitu di antara 0,1 mikron sampai dengan 2 mikron. Sesuai dengan variasi di atas, dapat dikemukakan di bawah ini atara lain sebagi berikut: a. Pada tumbuhan Spirodela, ukuran tebal sekitar 0,1 mikron, sedang ukuran panjang sekitar 0,2 mikron. b. Pada  Aloe, ukuran tebal sekitar 1 mikron dan ukuran panjang 17 mikron, c. Pada Drosophyllum, ukuran tebal sekitar 2 mikron dan ukuran panjang sekitar 25 mikron. kromosom-kromosom tumbuhan Liliaceae ternyata banyak mendukung usaha-usaha penyelidikan tentang susunan-susunan yang halus dalam kromosom, karena ternyata kromosom-kromosomnya mempunyai ukuran yang lebih besar. Berdasarkan  ukuran dan bentuk  kromosom, kita akan dapat mengetahui pasangan-pasangan kromosom-kromosom tersebut. Mengenai bentuknya ini dpat ditentukan oleh letaknya sentromer (tempat yang sulit diwarnai sehubungan dengan terjadinya konstriksi) di mana melekat benang-benang fragmoplas. Dari hasil penyelidikan ini kita akan mendapatkan: a.Kromosom Akrosentrik, di mana letak sentromer itu terminal, b.Kromosom submetasentrik, di mana letak sentromer itu subterminal, seperti halnya pada kromosom-kromosom yang tidak sama panjang, berbentuk seperti huruf J, c.Kromosom metasentrik, dalam hal ini letaknya sentromer dapat median atau submedian, berbentuk seperti huruv V.  (Sutrian, 1992).


BY : RITA SUSANTI